Rabu, 24 Februari 2021

Musik Tradisional

 Pengertian Musik Tradisional

      Musik pada hakikatnya adalah seni yang menggunakan media penciptaan bunyi. Namun, tidak semua bunyi dapat disebut musik karena sebuah musik harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut  juga ditopang oleh berbagai komponen, seperti melodi, harmoni, ritme,timbre (warna suara), tempo, dinamika, dan bentuk. Seni musik adalah seni pengorganisasian bunyi dilakukan dengan teknik tertentu, yang mempunyai arti dan makna estetis di dalamnya.

 Hoffer (1985 : 22) dalam Sumaryanto menegaskan ada dua ciri utama bagi suatu bunyi dapat disebut musik, yaitu pengorganisasian bunyi dan artinya. Musik adalah pengorganisasian bunyi dan memiliki arti terjadi dalam rntang waktu tertentu dan biasanya mempunyai pitch.

     Musik tradisional adalah musik yang berasal dari daerah tertentu yang memiliki karakter atau gaya yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Keberlangsungan musik tradisional melalui upaya pewarisan secara turun temurun pada masyarakat pemiliknya

Fungsi dan Jenis Musik Tradisional

Fungsi musik tradisional antara lain sebagai berikut.

1. Sarana Upacara Budaya (Ritual)
     Di beberapa daerah, bunyi yang dihasilkan oleh instrumen atau alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Oleh karena itu,instrumen seperti itu dipakai sebagai sarana kegiatan upacara adat masyarakat.

2. Sarana Hiburan
     Musik tradisional berfungsi sebagai hiburan atau menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas harian, serta sebagai sarana rekreasi dan ajang pertemuan dengan warga lainnya.

3. Sarana Ekspresi Diri
    Musik bagi seniman sebagai media mengekspresikan diri serta mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan, dan cita-cita tentang diri , masyarakat, Tuhan, dan dunia.

4. Sarana Komunikasi
     Alat musik digunakan sebagai sarana komunikasi yang memiliki tanda bagi maysarakatnya, sebagaimana kenuntungan dalam masyarakat yang tiap bunyinya memiliki pesan tertentu.

5. Pengiring Tarian
     Di berbagai daerah Indonesia, bunyi-bunyian atau musik diciptakan oleh masyarakat untuk mengiringi tarian-tarian daerah.

6. Sarana Ekonomi
     Pemain musik tradisional dalam mempertunjukan permainan musiknya bertujuan sebagai sarana penghidupan ekonomi mereka.

     Musik tradisional dapat digolongkan menjadi beberpa jenis, yaitu alat musik/instrumen perkusi, petik, dan gesek.

Instrumen musik perkusi yaitu dimainkan dengan cara dipukuli dengan tangan atau stik, misalnya gamelan, talempong (Minangkabau), kolintang (Minahasa), arumba (Jawa Barat), gendang, tifa (Papua dan Maluku), dan lain-lain.
Instrumen musik petik, misalnya kecapi (Jawa Barat), siter (Jawa Tengah), sasando (NTT), sampek (Kalimantan), hapetan (Tapanuli), dan junggaa (Sulawesi Selatan).
Instrumen musik gesek, misalnya rebab yang dijumpai di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jakarta, serta oyahan yang ada di Bali dan Kalimantan.
Instrumen musik tiup, misalnya sejenis seruling, seperti saluang (Sumatera Barat), seruni (Sumatera Barat dan Kalimantan), dan seruling lembang (Tana Toraja).

Musik Sebagai Simbol Masyarakat Pendukungnya



      Musik tradisional di wilayah Nusantra masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan karakteristik musik tradisional tersebut terletak pada pola dan irama. Selain itu, juga instrumen musik dan bahasa yang digunakan. Perbedaan tersebut menjadikan musik tradisional memiliki makna yang berbeda di setiap daerah. Sebagian besar musik tradisional digunakan untuk mengiringi lagu daerah (musik vokal), tetapi juga ada yang berupa permainan instrumen musik (instrumental).

        Sebagaimana cabang seni yang lain, musik sarat dengan simbol-simbol tertentu yang berhubungan erat dengan makna tertentu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Simbol tersebut tampak pada karakter bunyi yang dihasilkan oleh instrumen-instrumen tersebut (musikal) dan vokal/suara manusia. Secara musikal, simbol-simbol musik tampak pada elemen-elemen di dalamnya, seperti tinggi rendahnya nada, ritme, dinamika, atau tempo. Sebagaimana unsur-unsur dasar musik dan unsur ekspresi musik yang idjelaskan berikut.
1. Unsur Dasar Musik
a. Nada
      Nada adalah bunyi yang frekuensinya tetap, sedangkan frekuensi adalah jumlah getaran per detik. Makin banyak frekuensi bunyi, makin tinggi nadanya, dan sebaliknya. Kuat rendahnya nada ditentukan oleh lebar getaran atau amplitudo. Makin lebar amplitudonya, makin keras suaranya. Timbre atau warna nada ditentukan oleh instrumen, sumber bunyi, dan cara memainkannya.

     Stemfluit (ditiup) dan stemvork atau garpu tala (diketukkan) adalah alat sebagai pedoman untuk menala atau menyetem nada. Nada dan not perlu dibedakan. Nada lebih bersifat audio (yang terdengar). Letaknya dapat berubah menurut tangga nada atau kunci yang digunakan. Sering diwujudkan dalam not angka. Not angka ini cocok digunakan sebagai notasi musik vokal. Adapun not bersifat visual (yang terlihat), nama dan letaknya pada paranada tetap (mutlak) meskipun tangga nadanya berubah, kecuali jika kuncinya dirubah. Not paranada cocok digunakan untuk notasi musik instrumen.

      Sebuah paranada terdiri dari tanda kunci, garis, spasi, garis dan spasi bantu, garis birama, serta garis penutup. Paranada G untuk menotasikan not-not bernada tinggi, sedangkan paranada F untuk not rendah.
       Nada pokok adalah nada atau not asli yang dikenal tanda kromatik. Ada beberapa tanda kromatik, yaitu sebagai berikut.



(kres) : untuk menaikan not setengah nada.
(mol) ; untuk menurunkan not setengah nada.
(pugar) : untuk mengembalikan not yang telah dikres atau dimol ke not asal.
      Instrumen musik yang menggunakan sistem papan nada disebut keyboard, misalnya organ, piano, melodeon, xilofon, dan sebagainya.

b. Tangga Nada
    Tangga nada adalah sistem susunan nada dengan pola tertentu. Ada dua tangga nada yaitu tangga nada diatonik yang menggunakan tujuh nada dan pentatonik yang menggunakan lima nada.  Tangga nada diatonik dibagi menjadi tangga nada minor dan mayor. Tangga nada minor lebih banyak digunakan pada lagu-lagu yang berkesan sedih, sedangkan mayor pada lagu yang bersuasana riang. Tangga nada pentatonik dibagi menjadi tangga nada pelog, salendro/slendro, dan madenda.

c. Harmoni
     Harmoni adalah komposisi bebagai bunyi atau melodi yang mengiringi melodi utama. HArmoni sederhana adalah akor. Akor adalah tiga nada/not atau lebih yang masing-masing berjarak tert (interval berseling 1 nada) untuk mengharmonisasi atau mengiringi melodi/lagu. 
Interval adalah jarak antara dua buah not.

d. Melodi
     Melodi adalah susunan nada yang diatur tinggi rendahnya, pola, dan harga nada sehingga menjadi kalimat lagu. Melodi adalah garis musik dan nada tunggal yang dimainkan secara berturut, atau pitches yang memiliki susunan atau kelompok. Karakteristik nada meliputi jangkauan (rentang), bentuk, dan gerakan.
1) Jangkauan (Rentang)
      Rentang atau kisaran pitch nada adalah jarak antara nada rendah dan tinggi. Penyanyi mengacu pada scale pitches artinya fokus pada aransemen yang berada dalam kisaran rendah, menengah, atau tinggi.
2) Bentuk
     Bentuk garis melodi mengacu pada garis geometri literal yang dapat dilakukan jika mendaki skala mengambil bentuk ke atas, sementara frasa yang turun berbentuk dalam gerakan ke bawah.
3) Gerakan
    Gerakan dapat berupa diperbantukan atau terpisah. KEtika melodi bergerak bertahap dan terhubung, gerakan ini disebut diperbantukan. Melodi yang melompat tidak ada hubungan dalam atau aliran dikatakan terpisah.

e. Ritme
    Irama (ritme) adalah perulangan bunyi-bunyian menurut pola tertentu dalam sebuah lagu. Perulangan bunyi ini menimbulkan keindahan dan enak untuk di dengar.


2. Unsur Ekspresi Musik
     Unsur ekspresi musik adalah sebagai berikut.
a. Tempo
    Tempo adalah kecepatan lagu karya musik menurut pulsa tertentu. Tempo menentukan ekspresi lagu. TAnda tempo ditulis pada awal lagu dan awal bagian lagu yang berubah temponya (jika ada). Alat untuk mengukur tempo disebut metronom. Ada dua jenis tempo yaitu tempo tetap dan  tempo bergerak. Tempo bergerak berubah mengikuti ekpsresi lagu. Tandanya ditulis pada bagian lagu atau karya musik yang dimaksud. Ada tiga tempo bergerak, yaitu sebagai berikut.

Accelerando (accel.)  : tempo semakin cepat.
Ritardando (rit.)         : tempo semakin lambat
Fermata                      : durasi non atau diam diperpanjang karena pulsa ditahan sejenak, sesuai kehendak konduktor.

b. Dinamik
      Dinamik adalah keras lirihnya lagu menurut ukuran intensitas tertentu. Dinamika menentukan ekspresi lagu, tandanya ditulis di atas bagian lagu yang dimaksud.
    Berikut jenis tanda tingkat dinamik.

Pianissimo (pp)         : sangat lirih
Piano (p)                   : lirih
Mezzo piano (mp)    : agak lirih
Mezzo forte (mf)      : agak keras
Forte (f)                    : keras
Fortissimo (ff)          : sangat keras
       Dinamik bergerak adalah dinamik yang berubah mengikuti ekpresi lagu. Tandanya sebagai berikut.
Kresendo (<)          : suara makin keras.
Deskresendo          : suara makin lirih.
Calando                 : berkurang volume suara dan kecepatan.
Subito p atau f       : tiba-tiba lirih atau keras.

       Simbol musik dapat juga dilihat dari aspek nonmusiknya, misalnya pada instrumen musik terdapat bentuk, bahan, pembuat instrumen, warna, dan ornamen-ornamen yang tampak pada instrumen tersebut.

Senin, 10 September 2012

MATAH ATI

SINOPSIS MATAH ATI

Matah Ati adalah sebuah kisah nyata tentang cinta dan perjuangan di Tanah Jawa pada Abad 18. Matah Ati adalah cerita perjuangan dan perjalanan cinta seorang wanita biasa bernama Rubiyah yang berjuang melawan penjajah bersama dengan Raden Mas Said yang dijuluki sebagai Pangeran Sambernyawa. Matah Ati juga menceritakan kisah berdirinya Istana Mangkunegaran, karena pernikahan Rubiyah, yang diberi nama Bandoro Raden Ayu Kusuma Matah Ati setelah menikah dengan Raden Mas Said, adalah cikal bakal dari para penguasa Istana Mangkunegaran.


“Matah Ati” adalah sebuah kisah perjalanan dan perjuangan cinta yang terjadi di Jawa pada abad ke-18 tentang gadis desa bernama Rubiyah. Beliau kemudian menjadi bagian dalam masa perjuangan R.M.Said melawan penjajahan Belanda di tanah Jawa dimana ia menarik perhatian seorang ksatria ningrat Jawa yaitu R.M. Said yang juga dikenal Pangeran Sambernyowo yang kemudian jatuh cinta kepadanya.

Hingga 16 tahun peperangan dan pemberontakan usai dengan kekalahan lawan, maka jadilah Raden Mas Said menjadi Raja bergelar Mangkunegara I dan Rubiyah menjadi permaisuri/istri dengan nama RADEN AYU KUSUMA MATAH ATI karena lahir di desa Matah dan bisa juga diartikan ‘Melayani hati sang pangeran’, melalui beliaulah turun generasi raja-raja Mangkunegaran.

Raden Mas Said adalah cucu dari Amangkurat 4, pada waktu itu hasil dari peperangan dan pemberontakan akhirnya menghasilkan perundingan yang dikenal dengan Perjanjian Giyanti. Perundingan perdamaian itu menjadikan kerajaan di Jawa terbelah menjadi empat yaitu Kasoeltanan Ngajogjakarta dan Pakoealaman Jogjakarta serta Kasoenanan Soerakarta dan Mangkoenegaran Soerakarta (Solo). Cerita indah ini dirajut dengan tema cinta, belas kasih, keberanian, keputusasaan dan sukacita.

‘Matah Ati’ menampilkan keagungan dan perjuangan wanita serta merupakan suatu fakta historis bahwa pada abad ke-18 sudah ada pejuang- pejuang wanita yang tangguh untuk menumpas keangkara murkaan dan ketidakadilan. Dengan kata lain, peran Rubiyah tidak hanya menjadi seorang istri/ibu yang selalu berada di wilayah urusan domestik (rumah tangga) dan wanita tani yang bisa menarikan tarian Jawa, seperti Srimpi, Bedaya dan lain-lain, melainkan juga mampu mendampingi R.M.Said dalam memimpin perang serta memimpin 40 prajurit wanita di medan perang layaknya laki-laki.

Selasa, 21 Agustus 2012

IDUL FITRI

lumingsire Surya ing pungkasaning romadhon, sinambut mijiling purwaning wulan kang fitrah, kairing swara pujian takbir, tahlil, lan tahmid. Pratandha lamun tekane wulan kang suci..., kanthi andap asoring budi, tulusing manah keparenga kula nyuwun agunging sih samodra pangaksami,
"TAQOBALALLAHU MINA WA MINKUM" wilujeng riyadi "minal aidin wal faizin"

Jumat, 25 Mei 2012

PENGUMUMAN UJIAN SMK BK SURAKARTA 2011/2012

hasil sidang pleno penegasan kelulusan smk bhinneka karya surakarta sabtu 26 mei 2012, tahun pelajaran 2011/2012 program studi listrik, mesin, dan otomotip mengesahkan lulus 100%.

Minggu, 12 Juni 2011

radimin wignyo martoyo wafat


radimin wignyo martoyo desa pranan polokarto sukoharjo, wafat di usia 87 tahun, beliau sejak kecil hingga wafat bertempat tinggal di pranan, pernah menjabat kadus/bayan, carik dan pernah menjabat pjs kepala desa/lurah, gambar disamping ketika dirawat di rsu dkr sukoharjo tanggal 1 juni 2011, bersama buyut anindhita nisitasari. tanggal 11 juni dimakamkan di pranan jam 13.00. selamat jalan mbah.... semoga diterima amalannya.

Rabu, 08 Juni 2011

umar bakri van solo

bersepeda kumbang setiap hari sejauh 10 kilometer demi kelangsungan hidup keluarga, itulah potret satu dari sekian banyak umar bakri di kawasan solo raya. sekarang banyak peserta didik yang tidak mengerti tentang etika atau unggah-ungguh, itu yang salah kurikulumnya atau penyampainya, atau memang pengaruh lingkungan tidak mendidik yang sangat kuat??
( mumet dhewe )

Soal ASAS Seni Rupa

Seni rupa yang menunjukan kualitas dari suatu permukaan atau penggambaran struktur permukaan suatu obyek pada karya seni rupa... Bentuk Teks...